Nelayan memperlihatkan udang kelong laut hasil tangkapannya di pantai Ujung Serangga, Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, Minggu (27/10).

Investasi untuk Budidaya Komoditas Udang Terus Didorong

(Berita Daerah – Nasional) Udang merupakan salah satu komoditas utama dalam industrialisasi perikanan Indonesia karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar tinggi. Bersama ikan tuna, udang menjadi peraup devisa terbesar Indonesia dari sektor perikanan dan kelautan.

Berdasarkan data, nilai ekspor komoditas udang asal RI pada semester pertama 2013 tercatat sebesar 723,6 juta dolar AS atau 36,7 persen dari total nilai ekspor Indonesia sebesar 1,97 miliar dolar AS.

Tingginya nilai ekonomis dan permintaan pasar menarik perhatian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk melakukan investasi di bidang perikanan budidaya khususnya untuk komoditas budidaya udang.

Ketertarikan Kadin terhadap komoditas udang antara lain karena harganya yang saat ini cenderung tinggi dan teknologi budidaya udang yang relatif telah dikuasai. Selain itu, faktor lainnya adalah masih tersedianya lahan tambak yang luas serta udang Indonesia dinilai bebas dari penyakit.

Bisnis di sektor perikanan budidaya secara umum memiliki prospek yang lebih bagus dibanding dengan perikanan tangkap dan perbankan melihat bahwa sektor ini lebih visibel, terukur, dan lebih terjamin hasilnya.

Indonesia sendiri tidak perlu khawatir dengan pasar untuk memasarkan hasil produksi perikanan budidaya. FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) memprediksikan bahwa kebutuhan udang di Thailand dan China cukup besar dan tidak bisa dipenuhi dari produksi mereka sendiri, sehingga negara-negara tersebut perlu mengimpor.

Indonesia sangat berpeluang melakukan ekspor ke negara-negara tersebut. Indonesia harus memanfaatkan kelebihan yang dimiliki, dengan garis pantai terpanjang dan terbaik kedua di dunia yang dapat menghasilkan ikan sepanjang tahun.

Induk dan benih juga tersedia sepanjang tahun di Indonesia serta SDM yang juga dinilai tidak pernah kekurangan jumlahnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah berada di jalur yang tepat dengan dukungannya terhadap program industrialisasi kelautan dan perikanan.

Keunggulan lain yang dimiliki komoditas udang asal Indonesia adalah produknya yang bebas residu. Diterapkannya `National Residue Control Plan` (NRCP) setiap tahun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan produk udang Indonesia bebas residu dengan dicabutnya sanksi oleh Komisi Uni Eropa.

Tren positif dalam ekspor komoditas udang ini juga dikarenakan Indonesia tidak bermasalah dengan serangan wabah penyakit EMS (“Early Mortality Syndrome”) yang menyerang pembudidaya udang di negara produsen lain seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Program revitalisasi tambak udang melalui tambak demfarm yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak tahun 2012 telah mengubah cara bertambak para pembudidaya udang di wilayah Pantai Utara (Pantura) khususnya di wilayah Banten dan Jawa Barat.

Program tersebut merubah mindset petambak dari semula bertambak secara individual menjadi komunal (sistim klaster/kelompok) serta memperkuat jiwa kewirausahaan di kalangan petambak tradisional. Sistem klaster diperlukan sekali agar petambak bisa mengendalikan musim tanam, asal usul benih yang berkualitas, prosedur pemeliharaannya, dan sangat bermanfaat bagi pengendalian serta isolasi penyakit.

Sebelumnya, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) meminta Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo untuk lebih melibatkan pembudi daya berskala kecil dalam membuat skema sertifikasi perikanan budidaya di Indonesia sebagai bentuk perlindungan warga negara dan kepentingan nasional.

Skema sertifikasi juga harus dipastikan tidak memberikan ruang dominan bagi korporasi agribisnis yang kemudian meminggirikan petambak tradisional terutama dalam hal bibit, pakan, dan akses pasar.

(et/EA/bd)

Pic: ant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>