Seorang pekerja mengecek panel kontrol dari turbin hidrolik vertikal kaplan usai dibersihkan dari debu vulkanik gunung Kelud di Pembangkit Jawa Bali - PLTA Selorejo, Ngantang, Malang, Jawa Timur, Jumat (21/2).

Jawa Alami Krisis Listrik Tanpa Pertumbuhan Pembangkit

(Berita Daerah – Jawa) Seiring dengan terus tumbuhnya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan konsumsi listrik juga tumbuh pesat. Berdasarkan hasil studi PLN, Pulau Jawa diperkirakan akan mengalami krisis listrik pada tahun 2018 akibat pertumbuhan beban listrik yang terus meningkat dengan pertumbuhan per tahun yang mencapai sekitar sembilan persen.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, menyatakan jika krisis listrik dimungkinkan terjadi jika tingginya pertumbuhan tidak dibarengi dengan tumbuhnya penyediaan atau pasokan. Ekonomi yang membaik, pabriknya, mall, dan hotel makin banyak, sementara jumlah penyediaan energi listriknya kurang, itulah yang memungkinkan terjadinya krisis listrik di Pulau Jawa.

Kecepatan membangun infrastruktur penyediaan energi listrik tidak secepat yang dibutuhkan. Untuk mengantisipasi krisis tersebut pemerintah harus menambah 5000 atau 4000 Mw setiap tahun, terutama Jawa dan Bali, karena tingginya pertumbuhan ekonomi di kedua pulau itu. Hambatan yang terbanyak adalah hambatan lahan, seperti yang 2X1000 MW di Jawa Tengah, di mana lahannya masih belum bebas.

Akan tetapi, nantinya akan dilakukan terobosan untuk penambahan 7000 Mw dengan batubara yang kini tengah dikerjakan, termasuk jaringan. Sehingga, apabila pembangkitannya sudah dapat dijalankan, jaringannya terus paralel.

Sementara itu, sebelumnya, Indonesia Climate Change Center (ICCC) menyatakan bahwa investasi untuk membangun pembangkit listrik bisa mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil yang ada di Indonesia.

Sekitar 30 miliar dolar AS investasi perlu diundang untuk melayani listrik di daerah terpencil, namun pertumbuhan pembangunannya bisa mencapai enam miliar dolar AS per tahun. Apabila ada satu rupiah diinvestasikan kemudian menjadi tiga rupiah di tahun-tahun berikutnya, mengapa tidak lekas dikerjakan?.

Penyediaan listrik di daerah terpencil akan menguntungkan semua pihak. Investor bisa cepat kembali modalnya, ekonomi masyarakat terbangun cepat dan pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi makro.

Saat ini, pemerintah Indonesia baru mampu memenuhi 75 persen kebutuhan listrik masyarakatnya. Penduduk yang belum bisa menikmati listrik sebagian besar tersebar di daerah-daerah terpencil yang berpenduduk sedikit. Selain itu masyarakat di beberapa daerah sampai sekarang belum bisa mendapatkan pasokan listrik selama 24 jam.

Volume permintaan listrik di daerah terpencil relatif kecil membuat pembangunan jaringan listrik terpusat akan menghabiskan banyak anggaran negara dan tidak ekonomis.

Solusi tepat untuk menyediakan pasokan listrik 24 jam sepanjang tahun di daerah terpencil adalah dengan membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas atau biomassa.

Pemerintah sendiri tidak perlu khawatir harus menyediakan lebih banyak subsidi untuk membantu masyarakat daerah terpencil mengakses listrik. Misalnya, di daerah terpencil Papua, untuk masyarakat yang mendapatkan listrik secara terbatas saja biaya pulsa handphone jauh lebih besar daripada ongkos listriknya, karena itu pemerintah tidak perlu khawatir.

Eronu Telaumbanua/Jurnalis
Editor: Eni Ariyanti

Pic: ant

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>