




Foto: bd - liputan6.com
(Berita Daerah - Maluku), Gubernur Maluku, Karel Alberth Ralahalu meminta agar masyarakat Maluku untuk lebih menahan diri serta memberikan kesempatan penegak hukum untuk menyelesaikannya sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Kita berdosa kepada Pattimura yang sudah memperjuangkan harkat dan martabat Maluku untuk kemerdekaan bangsa dan negara kita. Oleh sebab itu saya menghimbau kepada kita semua. Mari kita menjaga diri kita masing-maisng menahan diri dan masalah terjadi akan segera diselesaikan dengan baik sesuai hukum yang berlaku,” tandas Gubernur kepada wartawan di Ambon.
Gubernur mengatakan, dirinya sangat terharu dengan situasi dan kondisi yang terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Pattimura yang ke-195.
“Hari ini (kemarin-red) saya merasa sangat terharu sekali dengan situasi kondisi seperti tadi pagi (kemarin-red) yang bertepatan dengan 195 tahun kita memperingati perjuangan pahlawan Pattimura, tetapi ada insiden yang tidak bisa kita hindari dan ini sangat memprihatinkan untuk kita semua,” ungkap Gubernur.
Gubernur menegaskan, korban-korban akibat insiden tersebut yang kini sementara di rawat di rumah sakit akan ditanggung pemerintah. Selain itu, rumah-rumah yang terbakar dan sepeda motor yang terbakar juga akan diganti oleh pemerintah daerah.
“Kita segera merawat mereka-mereka yang ada di rumah sakit dan biayanya ditanggung semua oleh pemda. Selain korban, rumah terbakar dan kendaraan yang terbakar akan diselesaikan oleh pemerintah daerah,” janji Gubernur.
Gubernur menyayangkan kondisi kota Ambon di tengah persiapan pelaksanaan event Nasional Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional yang berlangsung awal Juni ini, justru di kacaukan dengan insiden yang tidak diinginkan bersama.
Sementara itu, Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Ambon, Frits Kerlely meminta aparat kepolisian dan pemerintah daerah dalam hal ini Gubernur Maluku maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, untuk lebih jeli melihat persoalan ini.
Pasalnya, insiden pada peringatan hari Pattimura bukan baru pertama kali terjadi dengan lokasi yang sama.
“Insiden selalu terjadi di hari yang sama lokasi yang sama dan masyarakat sudah jadi korban. Korban masyarakat di Kota Ambon, semua pihak harus bertanggung jawab. Kami duga ada target tertentu. Mestinya ini menjadi target aparat keamanan untuk melihat hal ini. Kapolda dan Panglima untuk menyampaikan duduk masalahnya. Karena ini bukan bertama kali,” tandas Kerlely kepada wartawan di Ambon.
Kerlely mengatakan, kejadian ini pula diakibatkan karena lemahnya aparat intelijen di daerah maupun pusat. Harusnya, dengan kejadian awal-awal aparat keamanan harus cepat tanggap.
“Kejadian ini juga karena lemahnya aparat intelijen yang ada di daerah dan pusat. Kita berharap pemda maupun aparat keamanan TNI Polri dapat membuka seluruh target yang diduga terselubung yang selalu mengacaukan kondisi perataan hari Pattimura. Selain itu, Gubernur dalam kapasitas kepala daerah juga harus menjelaskan kronologis sejarah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandas Kerlely.
Sementara itu,Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Ambon berharap, Ambon tetap menjadi kota yang aman serta nyaman untuk dijadikan tempat tinggal dan Warga Kota Ambon tetap menjadi tuan rumah yang baik bagi pelaksanaan event-event nasional maupun internasional terkhusus kegiatan MTQ XXIV.
Hal ini disampaikan oleh Ketua DPC GAMKI Kota Ambon, Jhon Tabalessy dalam press release-nya kepada wartawan.
Tabalessy mengaku, jika dicermati konflik yang terjadi akibat Lari Obor Pattimura merupakan peristiwa Kriminal murni yang dengan sengaja direncanakan dan dilakukan oleh segelintir orang yang tidak tertanggung-jawab (provokator) dengan melatari agama sebagai alasan untuk menciptakan instabilitas di Kota Ambon yang sudah membaik dan pulih dari keterpurukan keamanan, ekonomi, pendidikan maupun sosial.
“Peristiwa ini pun adalah upaya untuk menggagalkan agenda-agenda nasional yang berlangsung di Kota Ambon terutama pelaksanaan MTQ Nasional,” ungkapnya.
GAMKI, tandas Tabalessy menuntut pemerintah dan aparat keamanan baik TNI/POLRI secepatnya mencari, mengungkap dan menindak tegas pelaku kerusuhan 15 Mei tersebut. GAMKI juga mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mengganti segala bentuk kerugian yang terjadi akibat pembakaran rumah, kendaraan maupun harta benda lainnya serta menangani korban jiwa dan korban luka-luka sampai sembuh total.
Selain itu, GAMKI juga meminta pertanggungjawaban Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease di media cetak beberapa hari lalu atas pernyataan jaminan keamanan khusunya dalam mengantisipasi kericuhan yang terjadi pada lari obor pattimura dengan melibatkan 650 orang personil TNI AD & AL. Ternyata pernyataan ini hanya pernyataan kosong belaka tanpa ada langkah-langkah preventif yang intensif sehingga terjadi jatuhnya korban baik jiwa maupun harta benda.
Sementara itu, Komisi A DPRD Kota Ambon akan meminta penjelasan Kapolres Ambon AKBP Suharyono dan Dandim 1504, Letkol Inf J. Lumbatoruan terkait bentrokan tersebut.
“Kita sangat sesali terjadinya bentrokan tersebut sehingga kita akan meminta penjelasan Kapolres dan Dandim,” jelas Sekretaris Komisi I DPRD Kota Ambon, Jafry Taihutu kepada wartawan melalui telepon selularnya.
Dikatakan, Polri dan TNI harus menyikapi dan mengantisipasi apa yang terjadi serta mengambil tindakan preventif.
(wsh/WSH/bd - siwalimanews.com)