(Berita daerah-Sulawesi) Pasar tumpah selalu ada di setiap daerah di Indonesia menjelang Idul Fitri. Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasar tumpah itu dikenal dengan Pasar Lentora.
Kata lentora sendiri berasal dari Bahasa Kaili, etnis terbesar di Sulawesi Tengah, yang bermakna kangen atau rindu.
Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa disepakati "lentora" untuk nama pasar yang hanya buka pada sore hingga tengah malam ini.
Dengan berkunjung ke Pasar Lentora warga dapat bertemu banyak orang, beberapa di antaranya mungkin kawan lama yang sudah lama tidak jumpa.
Sebelum dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot Palu), Pasar Lentora sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam dan menjadi tradisi setiap satu pekan menjelang Idul Fitri.
Lokasi Pasar Lentora saat itu dipusatkan di Pasar Bambaru atau lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan Pasar Tua karena merupakan pasar yang pertama kali ada di Kota Palu.
Adanya Pasar Lentora ibarat sisi mata uang yang memiliki perbedaan mencolok yang sekaligus dapat dilihat atau dirasakan secara bersamaan.
Sejauh manakah manfaat atau berkah Pasar Lentora atau malah menjadi masalah bagi warga Kota Palu.
Sekretaris Daerah Kota Palu Arifin Hi Lolo mengatakan pelaksanaan Pasar Lentora bertujuan untuk lebih memberi ruang bagi pedagang kecil supaya meningkatkan pendapatan di Bulan Ramadhan.
"Daripada berjualan di sembarang tempat, akhirnya kami memutuskan untuk menempatkan para penjual di beberapa titik," katanya.
Teknis pelaksanaan Pasar Lentora itu diserahkan ke setiap camat yang ada di Kota Palu.
Bagi pedagang keberadaan Pasar Lentora tentu saja membawa berkah tersendiri terutama saat menjelang lebaran.
Mereka bisa meraih untung dua kali lipat dari menjual aneka kebutuhan rumah tangga dan pakaian.
Sebagian besar pedagang di Pasar Lentora menjual pakaian, kain, celana, sepatu, sandal, mainan, atau berbagai makanan/kue lebaran.
Tentu saja itu menarik minat masyarakat karena harga yang ditawarkan di pasar tersebut tergolong miring, berbeda dengan yang dijual di pasar-pasar atau toko biasa.
"Kualitasnya pun hampir sama, yang penting kita harus pandai-pandai menawar," kata Nia seorang pembeli asal Palu Selatan.
Pasar Lentora di Palu sendiri berlokasi di empat titik, yakni Pantai Talise, Komplek Pertokoan Hasanuddin, Lapangan Mpanau, dan Kompek Palu Plaza.
Di situ terdapat lebih 400 lapak penjual yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan terdapat penjual yang berasal dari Makassar, Surabaya, atau Bandung yang mencoba mencari peruntungan di Pasar Lentora.
Sejumlah pedagang mengaku mendapat omzet hingga Rp300 ribu setiap malamnya.
Penyebab kemacetan
Adanya Pasar Lentora yang berada di sisi jalan selalu membuat macet arus lalu lintas. Banyaknya pengunjung serta kendaraan yang diparkir hingga ke tepi jalan membuat arus lalu lintas berjalan melambat.
Polisi pun harus bekerja ekstra keras untuk melancarkan arus lalu lintas.
Lokasi keempat Pasar Lentora kebetulan berada di jalanan utama sehingga kemacetan tak bisa terhindarkan.
Sementara itu, keberadaan Pasar Lentora yang berada di Kompleks Palu Plaza dinilai juga mengganggu kekhusyukan orang saat melaksanakan ibadah sholat Isya dan Tarawih.
Pasar tersebut berjarak hanya 20 meter dari Masjid Alkhairaat Palu di Jalan SIS Aljufrie, Kecamatan Palu Barat.
Situasi ramai juga diperparah dengan bunyi petasan, klakson kendaraan, serta peluit tukang parkir yang bersahut-sahutan.
Camat Palu Barat Dahyar Muhammad sebelumnya tidak mengijinkan adanya Pasar Lentora di wilayahnya karena bisa mengganggu ketertiban umum.
Mengingat Pasar Lentora sudah menjadi tradisi dan warga menghendakinya akhirnya pihak kecamatan terpaksa menyetujuinya.
"Mungkin tahun depan lokasi Pasar Lentora bisa dipindah supaya tidak mengganggu ibadah atau kelancaran lalu lintas," katanya.
Keramaian Pasar Lentora dinilai juga bisa meningkatkan angka kriminalitas terutama kasus pencurian kendaraan bermotor milik pengunjung.
Selain itu peredaran uang palsu juga berpotensi terjadi di pasar itu.
Keberadaan Pasar Lentora harus ditinjau dari sisi positif dan negatifnya.
"Jangan sampai untung tapi di lain pihak justru membuat kerugian," kata Camat Palu Barat Dahyar Muhammad.
Menurutnya, kemacetan yang dialami pengguna jalan jelas membuat kerugian materi dan nonmateri.
Dia sudah mengusulkan agar Pasar Lentora dikumpulkan di satu titik tertentu yang tidak mengganggu arus lalu lintas atau ibadah.
"Jadi ke depannya kita harus bisa melihat Pasar Lentora yang modern," kata Dahyar. (ma/MA/ant-R Maruto)
|