




Foto: bd - siwalimanews.com
(Berita Daerah - Ambon), Bentrokan berdarah yang terjadi saat arak-arakan obor perjuangan Pattimura, Selasa (15/5), diduga kuat sudah dirancang oknum-oknum tertentu. Kendati demikian, pihak kepolisian terkesan lambat akibat tidak tanggap terhadap kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.
Bentrokan tersebut berawal saat arak-arakan obor perjuangan Pattimura yang dibawa pemuda dari Desa Batu Merah melewati kawasan persimpangan Jalan Rijali dan Tulukabessy, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, pada pukul 05.10 WIT.
Informasi yang dihimpun wartawandi Tempat Kejadian Perkara (TKP) terungkap saat tiba di lokasi tersebut ternyata ada pemuda Desa Batu Merah yang melakukan aksi sumburan api dari obor yang dibawanya. Ternyata warga yang sementara menonton di tepi jalan tersebut juga terkena sumburan api, sehingga terjadi adu mulut. Perdebatan tersebut akhirnya berkembang menjadi saling lempar obor maupun batu.
Situasi akhirnya semakin tak terkendali. Tiga orang pembawa obor pun kabur. Entah kemana mereka bertiga melarikan obor tersebut, padahal telah ditunggu oleh peserta upacara peringatan Hari Pattimura ke-195 yang dipusatkan di Pattimura Park.
Sementara kronologis versi Polda Maluku menyebutkan bentrokan tersebut terjadi saat obor perjuangan Pattimura yang sementara berada di tangan pemuda Batu Merah hendak dibawa menuju Pattimura Park. Namun tiba-tiba warga dari kawasan Mardika menghadang dan meminta pemuda Batu Merah menyerahkan obor tersebut kepada pemuda Mardika guna dibawa.
Permintaan tersebut ditolak oleh warga Batu Merah dengan alasan Mardika bukan merupakan desa adat sehingga tidak berhak membawa obor tersebut. Adu mulut pun terjadi hingga berujung dengan aksi pelemparan batu antar warga yang berada di TKP.
Sementara itu, usai rapat koordinasi yang berlangsung di Kantor Gubernur Maluku, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengaku, sebelumnya pihaknya sudah mendapat informasi akan terjadi gangguan keamanan di Galala.
Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan digesernya personel ke kawasan tersebut, sehingga otomatis perbatasan Batu Merah-Mardika yang merupakan titik rawan jumlah personl ikut berkurang.
“Memang kami menerima informasi di Galala akan terjadi gangguan keamanan sehingga personel kami geser ke sana. Pada saat aparat kita bergeser itulah timbul peristiwa berdarah tersebut,” ungkapnya.
Dikatakan, pengamanan arak-arakan obor perjuangan Pattimura melibatkan sebanyak 650 personel gabungan TNI dan Polri.
Ia juga menyesalkan prosesi arak-arakan yang berlebihan dengan disertai akrobatik nyala api yang disumbur peserta arak-arakan.
“Terlalu berlebihan sehingga jatuh korban. Bisa saja akibat kemampuan akrobat yang disertai sumburan nyala api itu mengena warga dan terpancing emosi. Seharusnya pawai Obor Pattimura itu dilakukan dengan hikmat karena Pattimura merupakan pahlawan yang harus dihormati,” katanya.
Terkait dengan lemparan bahan peledak yang menyerupai bom, mantan Wakil Kepala Brimob Polri ini sudah membentuk tim mengusut peledakan bom di perbatasan kawasan Batu Merah-Mardika tersebut.
“Saya sudah membentuk tim untuk mengungkap pelaku pelemparan bahan peledak yang menyerupai bom. Mudah-mudahan secepatnya diungkap. Masyarakat diminta berdoa dan membantu polisi juga,” harapnya.
Sementara itu Pangdam XVI/Pattimura usai menghadiri syukuran HUT Kodam XVI/Pattimura ke-13 meminta warga Kota Ambon menahan diri. Pasalnya, tinggal satu bulan lagi akan dihelat event MTQ Nasional XXIV di Kota Ambon.
“Mari kita hargai kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Di hari ulang tahun Pattimura ini masyarakat Maluku harus menghargainya sebagai pahlawan yang harus dihormati dan dibanggakan,” tandasnya.
(wsh/WSH/ bd - siwalimanews.com)