




Foto: bd - beritajakarta.com
(Berita Daerah - Jabodetabek) Seiring perkembangan zaman, banyak jajanan khas Betawi yang mulai terlupakan bahkan bisa dibilang hampir punah. Salah satunya es selendang mayang. Kuliner Betawi yang satu ini biasanya hanya ditemui saat acara-acara tertentu seperti pesta pernikahan ataupun saat berlangsungnya festival kuliner atau makanan. Padahal, rasanya yang nikmat dan segar membuat pecinta kuliner ingin selalu mencicipinya.
Bagi pecinta kuliner yang ingin menikmati jajanan ini silakan datang ke Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) di Kampoeng Tempo Doeloe (KTD), Mal La Piazza, Kelapadading, Jakarta Utara. Ya, melalui kegiatan yang akan berlangsung hingga tanggal 3 Juni mendatang, para pecinta kuliner tradisional khas Betawi tentunya akan dimanjakan dengan beragam jenis kuliner Betawi yang kaya akan cita rasa. Tak terkecuali es selendang mayang.
Salah satu jajanan es selendang mayang yang dapat dijumpai di gelaran JFFF tahun ini, adalah milik Joko Andri (43). Sang pembuatnya menjamin, es selendang mayang bikinannya ini akan membuat lidah penikmatnya ikut bergoyang. Dalam penyajiannya, dikatakan Joko, es selendang mayang buatannya memiliki paduan rasa manis, gurih dan segar yang disajikan dalam gelas plastik berisikan selendang mayang, es batu gula aren serta santan.
Masyarakat pada umumnya lebih nikmat jika melahapnya langsung memakai sendok plastik yang telah disediakan. Dengan begitu, kelezatan akan lebih terasa di lidah. Jajanan yang jarang ditemui itu, rupanya banyak menarik minat pengunjung untuk mencicipinya dalam pagelaran JFFF tahun ini. "Es selendang mayang merupakan makanan tradisional khas Betawi yang saat ini sulit ditemui. Tapi, rasa dari es selendang mayang buatan saya berbeda dengan yang lainnya, dan dijamin bikin lidah Anda bergoyang," ujar Joko, saat ditemui di JFFF Kampoeng Tempoe Doeloe, La Piazza, Kelapagading, Jakarta Utara, Rabu (16/5).
Diungkapkan Joko, perbedaan rasa es selendang mayang miliknya, terletak pada gula aren yang kental dan racikan santan yang dicampur dengan air daun pandan yang telah direbus sebelumnya. Sehingga membuat selendang mayangnya semakin terasa wangi, nikmat, manis, dan yang paling penting rasanya yang menggugah selera. "Banyak pedagang yang jual selendang mayang berwarna merah dan putih, tapi ibu saya sering membuat selendang mayang dari daun suji sehingga berwarna hijau. Dengan perbedaan warna ini, ternyata masyarakat banyak yang tertarik dan suka untuk mencicipinya," katanya.
Diceritakan Joko, awal dirinya merintis usaha jajanan khas Betawi ini dimulai pada tahun 2008. Saat itu, kenang Joko, dirinya mengikuti Festival Jajanan Bango 2008 di Jakarta. Berbekal ilmu dan resep yang diberikan dari sang ibu, penjualan es selendang mayangnya ternyata laku keras dan habis terjual dalam hitungan jam. "Awalnya coba-coba jualan jajanan ringan khas Betawi ini, dan nggak taunya laku keras. Jadi saya meneruskan usaha ini sampai sekarang," ucap Joko.
Semenjak itulah Joko tetap eksis melanjutkan usahanya dan mengikuti berbagai festival seperti, Festival Jajanan Bango tahun 2008 hingga 2011, Kampoeng Tempoe Doeloe (KTD) La Piazza 2011 dan 2012, Festival Jajanan di Mal Serpong tahun 2011, dan Festival Makanan UKM Indonesia tahun 2010. Bahkan, saat ini dia membuka jajanan tersebut di outlet Dapur Kemangi Cyberg Dua di Mal Ambasador.
Joko menceritakan sedikit rahasia cara membuat es selendang mayang. Awalnya, kata Joko, tepung beras dan sagu aren dijadikan satu dalam panci dan dicampur dengan sari daun suji untuk dimasak dan diaduk kurang lebih satu jam hingga mendidih dan tanak. Setelah itu, adonan tadi dimasukkan ke dalam wadah dan ditunggu hingga dua jam atau hingga selendang mayang menjadi kenyal.
Untuk campuran santan, diungkapkan Joko, dicampur dengan rebusan air daun pandan. Sedangkan untuk gula, Joko membuatnya dari bahan gula aren yang terlebih dahulu dipanaskan di atas wajan hingga gula mengental. "Kalau bisa gulanya memakai gula aren biar rasanya makin mantap. Santannya pun harus dicampur dengan air daun pandan biar wangi," ungkapnya.
Es selendang mayang buatan Joko memang memiliki rasa yang gurih dan nikmat, serta tiada duanya. Tak heran, es selendang mayang yang dijualnya dalam JFFF sejak pukul 11.00 hingga 22.00 itu bisa menghabiskan 5 loyang atau sekitar 250 gelas per hari. "Dalam sehari omzet dari penjualan es selendang mayang bisa mencapai Rp 2 juta lebih. Saya menjual jajanan ini Rp 8.000 per porsi," tuturnya.
Selain menjual es selendang mayang, para pengunjung juga bisa menikmati jajanan milik Joko lainnya, seperti risol setan. Mendengarnya saja pasti pasti langsung terlintas kesan menakutkan alias seram. Namun, risol setan yang ditawarkan Joko tidaklah menyeramkan atau mengerikan, hanya saja rasa sambal kacang yang diguyur di atas risol tersebut membuat penikmatnya dijamin akan kepedasan. "Dari kedua jajanan ini, tetap es selendang mayang yang paling banyak diincar pengunjung, karena selain sulit ditemui, rasanya yang gurih dan membuat lidah Anda bergoyang. Kalau risol setan bisa laku 200 porsi atau omzetnya di atas Rp 500 ribu per hari," katanya.
Risol setan yang terbuat dari kulit lumpia dengan isi kentang, daging, telur, dan wortel ini juga membuat para pengunjung akan tertarik mencicipinya. Untuk harga, satu porsinya berisikan empat risol setan dan dibanderol Rp 12 ribu. "Kalau risol setan saya hantam disambelnya dengan perpaduan kacang. Cabai rawit 7 kilogram dan kacang tanah 10 kilogram. Masyarakat kita doyan pedas, karena makanan kalau nggak pedas nggak enak," tandasnya.
(wsh/WSH/bd - beritajakarta.com)