VIBIZPORTAL.COM   Dailynews   Financial   Regional   Management   ICT   Shopping   Lifestyle   Fashion   Jobs & Career   Forum
Pusat Informasi Potensi Daerah Indonesia - Pariwisata & Investasi Usaha Search
Home


Ronald Sianipar

Produksi Batubara China vs Indonesia

Selasa, 2 Maret 2010

(Berita Daerah - Nasional) China dan Indonesia merupakan dua dari beberapa negara penghasil batubara terbesar di dunia. Pada tahun 2008, produksi batubara China mampu mencapai 2,761 miliar ton, dan Indonesia mampu mencapai 246 juta ton. Tren produksi batubara kedua negara ini selalu meningkat setiap tahunnya, dengan kata lain dengan sumber daya yang terbatas, ekstraksi barang tambang batubara ini masih terus dilakukan.


10 besar penghasil batubara terbesar dunia (dalam juta ton)


Sumber: International Energy Agency 2009

Perbedaan unik kedua negara ini terlihat dari pengelolaan hasil tambang batu bara. Sederhananya, pengelolaan batubara di China disesuaikan dengan permintaan industri dan kebutuhan dalam negeri (lihat grafik produksi dan konsumsi). Sedangkan pengelolaan hasil tambang batubara di indonesia masih fokus pada ekspor, bukan pemenuhan industri dan kebutuhan dalam negeri.

        Produksi dan Konsumsi batubara di negara China 1980 - 2006
(dalam juta ton)  

     

                  Sumber : EIA International Energy Annual, 2010                   


Produksi dan Konsumsi batubara di negara Indonesia 1980 - 2006

(dalam juta ton)

Sumber : EIA International Energy Annual, 2010   


China merupakan penghasil batubara terbesar di dunia, tapi bukan pengekspor terbesar juga. Sementara Indonesia, merupakan negara pengekspor batubara terbesar kedua setelah Australia.   Produksi batubara Indonesia lebih besar dari konsumsi/kebutuhan dalam negeri. Perlu diperhatikan, hal ini bukan berarti Indonesia sangat maju atau "lebih dari cukup" dalam hal batubara, tapi kemampuan untuk mengelola sumber daya batubara itu di negeri sendiri masih minim. 

Sejak tahun 2004, kebutuhan/konsumsi batubara di Indonesia menurun 14,17 % tahun 2005, dan 5,49 % tahun 2006 (United States Energy Information Administration, 2010). Dapat didefinisikan bahwa pengelolaan batubara dalam negeri semakin menurun.  Pengelolaan batubara di Indonesia memang beragam, akan tetapi belum maksimal, antara lain pada PLTU, pabrik semen bertenaga batubara, dan briket. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi kenapa perkembangan industri Indonesia bergerak sangat pelan.

Berbeda halnya dengan China, konsumsi batubara memegang peranan penting berbagai industri, lebih dari 50 % dari total keseluruhan produksi batubara china fokus digunakan sebagai sumber pembangkit (China Energy Industry, 2010).

Dilihat dari periode pengelolaannya, sumber daya batubara ada batas ekstraksinya. Dengan kata lain, sampai umur berapa batubara tersebut dapat diolah. Mengingat proses pembentukan sumber daya alam batubara butuh waktu hingga ratusan tahun.

China, tingkat cadangan batubara 114,5 miliar ton yang diperkirakan habis dalam 48 tahun (asumsi produksi rata-rata 2,1 miliar ton/tahun). Dalam hal ini meskipun ektraksi paling besar, produksi dilakukan seefisien mungkin dengan menyesuaikan kebutuhan dalam negeri. Dengan teknologi yang ada, bukan tidak mungkin negara cina dapat menghabiskan sumber daya batubaranya. Akan tetapi karena mengalokasikan ke kebutuhan yang akan datang, jadi negara China menyesuaikan produksi dan konsumsi sekarang.

Indonesia, tingkat cadangan batubara 4,968 miliar ton yang diperkirakan habis dalam 25 tahun (asumsi produksi rata-rata 142 juta ton/tahun). Dalam hal ini, ekstraksi yang dilakukan terus meningkat tanpa dibarengi peningkatan industri dalam negeri, dan pada akhirnya hasil produksi batubara diekspor. Akibatnya, Dengan peningkatan rata-rata 21 % setiap tahun, bukan tidak mungkin cadangan batubara Indonesia akan habis kurang dari 25 tahun.

Dalam bahasan ini yang perlu ditekankan adalah koreksi pada sistem pengelolaan batubara di Indonesia. Selain aspek lingkungan, regulasi, dan investasi, sangat ditekankan bahwa orientasi ekspor batubara bukan suatu kebanggaan untuk terus ditingkatkan. Akan tetapi, pemanfaatan hasil ekstraksi dapat digunakan untuk mendorong industri dalam negeri sebagai sumber pembangkit, ataupun pembangunan industri turunan sumber daya alam batubara. Dengan demikian ekspor tidak hanya batubara saja akan tetapi produk-produk pendukungnya.

(ronald sianipar/FB/bd)

advertisement