Blog :
http://www.mudrajad.com/
Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lahir di Yogyakarta, 4 September 1965. Ia mendapat gelar Sarjana Ekonomi dengan predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada (1989), Graduate Diploma dengan spesialisasi Keuangan Daerah (1992) dan Master of Social Science dari University of Birmingham, Inggris (1993), Doktor (PhD) dengan spesialisasi Business & Regional Development dari University of Melbourne, Australia (2001), Guru Besar dalam Ilmu Ekonomi sejak 1 Oktober 2006. Pernah mengikuti kursus singkat Fiqh for Economists di International Islamic University, Selangor, Malaysia (1994), diundang oleh Department of Economics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University, Canberra, Australia, sebagai visiting scholar (1998), dosen tamu di University of Melbourne, University of Leiden, dan University of Groningen.Penghargaan ilmiah (award) yang pernah diperoleh, a.l.: (1) Finalis Peneliti Muda Indonesia 1994 dan 1995, yang diselenggarakan oleh LIPI-Menristek-Depdikbud-TVRI; (2) Special Dean Award dari Faculty of Economics and Commerce, University of Melbourne; (3) Teaching Award dan Lecture Notes Award dari QUE-Economics yang disponsori World Bank.
Rudolph, Medan.
Terima kasih untuk pertanyaan Bapak Rudolph. Lingkungan bisnis yang sehat sangatlah diperlukan untuk dapat menarik investor baik dari dalam maupun luar negeri. Survei membuktikan, faktor utama yang mempengaruhi lingkungan bisnis adalah: tenaga kerja dan produktifitas, perekonomian daerah, infrastruktur fisik, kondisi sosial politik, dan institusi. Survei yang dilakukan oleh KPPOD (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah) menunjukkan bahwa institusi merupakan faktor utama yang menentukan daya tarik investasi di suatu daerah, diikuti oleh kondisi sosial politik, infrastruktur fisik, kondisi ekonomi daerah dan produktifitas tenaga kerja.
Implikasinya, masih banyak "pekerjaan rumah" bagi pemerintah pusat dan daerah. Semoga dengan perbaikan lingkungan investasi yang mendasar, dibarengi strategi pemasaran daerah dan upaya menarik investasi yang lebih pro-aktif, tahun paceklik investasi segera berlalu. Semoga harapan perubahan yang diinginkan rakyat tidak hanya sekedar ”angin surga” dan visi 2030 tidak hanya menjadi mimpi.