VIBIZPORTAL.COM   Dailynews   Financial   Regional   Management   ICT   Shopping   Lifestyle   Fashion   Jobs & Career   Forum
Pusat Informasi Potensi Daerah Indonesia - Pariwisata & Investasi Usaha Search
Home
Jawa Tengah Kesulitan Menyimpan Kelebihan Beras
Senin, 8 Februari 2010

(Berita Daerah - Jawa) - Surplus produksi beras Jawa Tengah pada 2009 yang mencapai 2,5 juta ton bukan saja berjasa untuk memenuhi konsumsi masyarakat daerah itu, melainkan juga untuk menyangga kebutuhan pangan nasional.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, belum lama ini, mengungkapkan, persediaan beras di provinsi ini mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga Juni 2010.

"Persediaan beras di seluruh gudang Perum Bulog Jawa Tengah mencapai 250 ribu ton," kata gubernur.

Bahkan, kata dia, pada periode Maret hingga Mei 2010, persediaan beras provinsi itu akan bertambah, menyusul panen raya di sejumlah wilayah.

Menurut dia, dengan perkiraan panen raya yang terjadi pada Maret 2010, maka persediaan beras di Jawa Tengah akan kembali surplus.

Kondisi pangan yang melimpah itu, justru memunculkan permasalahan baru, khususnya bagi Perum Bulog, sebagai lembaga yang bertugas dalam hal pengadaan pangan.

Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah memerlukan tambahan gudang beras dengan kapasitas hingga 200 ribu ton untuk menyimpan hasil pengadaan beras di provinsi itu.

"Kapasitas gudang yang dimiliki Bulog Jawa Tengah saat ini hanya mencapai 433 ribu ton," kata Kepala Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah Harry Syahdan.

Menurut dia, kekurangan gudang sebesar itu disebabkan oleh kelebihan produksi beras provinsi tersebut.

Ia menjelaskan, produksi beras Jawa Tengah pada dua tahun terakhir naik mencolok.

Pada 2007, kata dia, produksi beras provinsi ini hanya sekitar 350 ribu ton. Pada 2008 dan 2009, jumlah produksi tersebut meningkat hingga dua kali lipat.

"Seiring dengan perkembangan teknologi pertanian, produksi beras Jawa Tengah pada dua tahun terakhir mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun," katanya.

Ia mengatakan, jika produksi beras di masa yang akan datang terus seperti itu, dipastikan Bulog tidak memiliki lagi gudang untuk menampung.

Menurut dia, ada usul agar Bulog menggunakan gudang milik pemerintah daerah, tetapi hal tersebut sulit dilakukan mengingat kapasitas gudang pemerintah daerah hanya sekitar lima ton.

Padahal, kata dia, kapasitas minimal gudang Bulog sekitar 1.000 ton per gudang.

Ia mengatakan, berbagai upaya dilakukan Bulog untuk menyediakan gudang penyimpanan, misalnya dengan mengirim beras ke wilayah yang mengalami defisit produksi atau menyewa tempat penyimpanan swasta.

Ia mengakui, melimpahnya produksi beras itu akan berdampak terhadap keterlambatan perputaran keluar-masuk barang di gudang.

Ia mencontohkan, persediaan di gudang Bulog saat ini adalah beras hasil pengadaan Maret 2009, yang diperkirakan baru tersalur pada Juli 2010.

"Sementara, panan raya diperkirakan sudah mulai berlangsung antara Maret hingga Mei," katanya.

Kondisi yang terjadi ini juga menjadi permasalahan yang dihadapi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Gubernur Bibit Waluyo juga mengakui permasalahan yang muncul akibat kelebihan produksi beras itu.

"Saat ini kita masih memiliki persediaan hingga 650 ribu ton beras. Kalau beberapa bulan lagi sudah panen, mau disimpan di mana berasnya?" katanya.

Ia meminta dinas pertanian serta institusi terkait lainnya untuk segera mencari pemecahan masalah tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B Dewan Perwakilkan Rakyat Daerah Jawa Tengah M Haris justru meminta Perum Bulog segera membangun gudang baru.

"Bulog seharusnya segera membangun gudang tambahan, khususnya di kawasan sentra produksi beras," katanya. Harga Naik

Meski produksi melimpah, menurut Haris, harga beras justru naik.

"Kenaikan harga beras kualitas sedang yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat, mencapai sekitar 20 persen," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Dengan pesediaan beras yang cukup melimpah, lanjut dia, Perum Bulog mampu menggelar operasi pasar, khususnya untuk beras berkualitas sedang.

Ia mengatakan, operasi pasar merupakan upaya menyetabilkan harga, sambil menunggu pendistribusian beras untuk masyarakat miskin yang dipercepat.

"Percepatan pembagian beras untuk masyarakat miskin juga menjadi salah satu cara untuk menyetabilkan harga komoditas ini," katanya.

Ia menuturkan, kenaikan harga beras di berbagai daerah ini merupakan pengaruh dari siklus musiman yang terjadi setiap tahun.

"Pada bulan-bulan saat awal musim tanam, persediaan beras hanya yang tersedia di pasaran," katanya.

Ia menilai, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh faktor psikologis terbitnya Instruksi Presiden Republik Indonesia tentang penetapan harga pembelian pemerintah untuk gabah dan beras pada tahun 2010.

Gubernur Bibit Waluyo menilai kenaikan harga beras di saat kondisi persediaan provinsi ini cukup melimpah justru disebabkan oleh ulah pedagang yang ingin mencari untung.

"Kenaikan harga beras dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," katanya.

Namun, ia mengimbau masyarakat tidak resah dengan ketersediaan beras di pasaran karena jumlahnya melimpah.

Untuk mengatasi kenaikan harga sekaligus mengurangi persediaan beras yang masih tersimpan di gudang-gudang, pemerintah provinsi mendesak seluruh kabupaten/kota segera mengajukan alokasi perintah pendistribusian beras untuk masyarakat miskin tahun 2010.

Menurut gubernur, penyaluran beras untuk masyarakat miskin diharapkan dapat memenuhi persediaan beras di pasaran.

Ia menambahkan, terdapat sekitar 294 ribu ton beras untuk masyarakat miskin di gudang-gudang Bulog yang siap didistribusikan.

(fb/FB/ant-I Citra Senjaya)

advertisement