VIBIZPORTAL.COM   Dailynews   Financial   Regional   Management   ICT   Shopping   Lifestyle   Fashion   Jobs & Career   Forum
Pusat Informasi Potensi Daerah Indonesia - Pariwisata & Investasi Usaha Search
Home
Gernas Kakao Bantu Dana Penyiapan Lahan
Senin, 8 Februari 2010

(Berita Daerah - Maluku) - Proyek gerakan nasional (Gernas) kakao membantu dana penyiapan lahan kepada petani sasaran penerima masing-asing Rp1 juta per hektare," kata Kadis Pertanian Maluku Rudy Latuheru.

"Dana tersebut ditransfer Kementerian Pertanian melalui rekening Dinas Pertanian Buru dan Dinas Kehutanan Seram Bagian Barat(SBB), selanjutnya dibagikan kepada petani di dua kabupaten tersebut," katanya di Ambon, Senin.

Buru dan SBB menjadi prioritas Gernas kakao yang dimulai pada 2009 karena memiliki luas lahan maupun tingkat serangan hama relatif tinggi dibanding tujuh kabupaten dan kota lainnya di Maluku.

Jumlah lahan kakao di kabupaten SBB tercatat 4.486 hektar dan Buru 2.549 hektar, sedangkan sisanya 7.035 haktare tersebar di Maluku Tengah, Maluku Tenggara (Malra), Seram Bagian Timur (SBT) dan Maluku Tenggara Barat (MTB).

SBB ditangani Dinas Kehutanan karena kabupaten yang dimekarkan dari Maluku Tengah pada 7 Januari 2004 itu sebelumnya menaungi Dinas Pertanian dan Perkebunan, selanjutnya baru mandiri pada 2009.

"Kami sedang mengawasi pembagian dana penyiapan lahan seiring dengan penyaluran bibit masing - masing 1.600 hektare di Buru dan SBB," ujar Latuheru.

Dia mengatakan, dari 1.600 hektar kakao yang akan dikembangkan di masing-masing kabupaten itu, 800 hektar di antaranya untuk proyek peremajaan, sedangkan sisanya untuk intensifikasi tanaman yang mati dan menurun produksinya karena terserang hama.

"Maluku merupakan salah satu dari sembilan daerah di Indonesia yang kebagian Gernas kakao sebagai terobosan pemerintah sehubungan produksi nasional kakao terus merosot dari tahun ke tahun sehingga melalui program ini meningkatkan produksi sekaligus mengatasi serangan hama pada tanaman kakao," ujarnya.

Deptan akan memberikan bantuan bibit unggul yang didatangkan khusus dari Jember dan memiliki tingkat produktivitas jauh lebih besar dari bibir biasa.

"Bibit ini merupakan hasil pengembangan kultur jaringan dan lebih tahan hama penyakit serta memiliki tingkat produksi lebih tinggi, dan bisa dipanen dalam jangka waktu empat tahun," kata Rudy Latuheru.

(rs/RS/ant)

advertisement